Monday, 18 April 2011

JIHAD FII SABILILLAH



JIHAD FI SABILILLAH
جهاد في سبيل الله

Mukadimmah

Jihad fi SabiliLlah termasuk tuntutan al-wala' dan al-bara' yang paling penting karena ia adalah pemisah antara yang Hak dan Batil, antara HizburRahman dan HizbusSyaitan.

Kita sudah maklum bahwa permusuhan antara dua golongan, iaitu Hizbur Rahman dan Hizbus Syaitan, merupakan masalah yang sudah mengakar, dan akan berlanjutan hingga Allah mewariskan bumi dan seisinya. Demikian keadaannya itu karena jalan yang ditempuh masing-masing saling berbeda. Dan mustahil keduanya itu akan menjumpai titik pertemuua.

Karena HizbuLlah hendak menegakkan Kalimatul-Haq dan kekuasaan syariat Islam di atas setiap jengkal bumi, sedangkan HizbusSyaitan membenci jalan ini, kemudian ia berusaha sekuat tenaga dengan segala cara untuk menyingkir dan menghancurkannya.

Dan jika kita semak Sirah Nabi Muhammad saw tentu kita akan mendapati bahawa jihad adalah langkah lanjutan dari hijrah Nabawiyyah. Hijrah merupakan titik awal membentuk sikap Al-Wala dan Al-Bara yang nampak dengan nyata sedangkan Jihad merupakan bentuk sikap lanjutannya yang jauh lebih nyata karena jihad merupakan satu-satunya jalan yang benar-benar memisahkan antara HizburRahman dan HizbusSyaitan.

Dan juga di dalam Sirah Nabi Muhammad saw kita dapati bahwa Rasulullah saw telah mempersiapkan Jihad dalam erti perang sejak menjelang berdirinya Daulah Islamiyyah (Pemerintah Islam) dan selanjutnya melaksanakan Jihad untuk mempertahankan dan memperkokoh Daulah Islamiyyah.

Maka dengan adanya Jihad, kedudukan manusia menjadi benar-benar jelas. Apakah dia berada dalam HizburRahman (Pembela-PenegakSyariat Allah) atau dalam barisan HizbusSyaitan (Penghalang tegaknya Syariat Allah).

I. PENGERTIAN JIHAD

A. Menurut Bahasa

Al-Jihaad adalah Masdar dari fi'il Ruba'iy: Jaahada berdasarkan wazan fi'il yang bermakna Al-Mufaa'alatu min Thorfayin (Saling berbuat dari kedua belah pihak) seperti perkataan Al-Jidal yang bermakna Al-Mujaadalah masdar dari perkataan Jaadal . Dari fi'il Thulathi bagi perkataan Jihad adalah Jahida masdarnya Al-Jahdu artinya At-Thooqot (kekuatan), dan masdarnya Al-Juhdu artinya Al-Masyaqqot (jerih payah).

Dan didalam Lisanul Arab : dikatakan Al-Jahdu (Al-Jahd) artinya Al-Masyaqqot (jerih payah), dan Al-Juhdu (Al-Juhd) artinya At-Thooqot (kekuatan). Dan dalam Lisanul Arab juga terdapat perkataan Al-Jihaad maknanya : Istifrooghu maa fiil wus'I wattooqoti min qaulin aw fi'li (Mencurahkan segenap tenaga dan kekuatan baik berupa Ucapan maupun Perbuatan).

Penulis Munjid mengatakan: Jaahada Mujaahadatan wa Jihaadan artinya Badzala wus'ah (Mengerahkan tenaganya) dan asalnya: Badzala kullum minhumaa juhdahu fii daf'i shohibih (Masing-masing diantara keduanya mengerahkan kekuatannya dalam menolak partnernya).

Dan didalam tafsir An-Naisabury : Dan yang shahih sesungguhnya Al-Jihaad adalah Badzlul Majhuudi fii Husuulil Maqshoudi (mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai tujuan).

Dari beberapa makna bahasa diatas dapat diperoleh Ta'rif Lughowi yang merupakan hakikat lughowiyyah bagi perkataan Al-Jihaad yaitu: Al-Jihaadu Huwa Istifrooghul Wus'i fiil Mudaafa'ati Bayna Thorofaina Walau Taqdiiroon "Jihad adalah pengerahan kekuatan yang didalamnya saling tolak menolak antara dua kutub walaupun pada takdirnya (bukan pada zahirnya)."

Yang dimaksud dengan takdirnya ialah Jihadul Ihsan terhadap dirinya, yaitu: bahwa di dalam diri manusia itu ada dua kutub, ketika kedua keinginan yang saling berlawanan bertemu didalam dirinya, maka masing masing berjihad untuk mengalahkan yang lain.

B. Ta'rif Al-Jihad menurut istilah syara' :

"Bahwasannya Jihad itu jika dinyatakan secara mutlak tanpa qayyid maksudnya adalah Qital (Perang) dan mengerahkan kemampuan daripadanya untuk meninggikan kalimatullah. Dan ta'rif Jihad yang lebih mendasar dan lebih mencakup adalah yang dinyatakan dalam Mazhab Hanafi yaitu: Mencurahkan kemampuan dan kekuatan dengan berperang di jalan Allah swt, dengan jiwa, harta dan lisan dan selain itu."

(Al-Kisani, Badai'u Ash-Shanai'i 9/4299)"

Ibnu Rusyd mengatakan:"Setiap orang yang meletihkan dirinya di dalam mentaatai Allah, maka sungguh ia telah berjihad di jalanNya, kecuali bahwasannya perkataan 'Jihad fie Sabilillah' bila dinyatakan secara mutlak, maka dengan kemutlakannya itu tidak dapat diartikan selain dari: Memerangi orang orang kafir denga pedang, hingga mereka masuk kedalam agama Islam atau membayar Jizyah dari tangan mereka, sedang mereka dalam keadaan hina."

(Muqaddimah Ibnu Rusyd 1/369)

Dan perkataan 'fie Sabilillah' jika dinyatakan secara mutlak atas sesuatu perbuatan, yang dimaksud adalah jihad yang maknanya Perang. Oleh karena itu kita lihat banyak para ulama penyusun berbagai kitab mencantumkan hadist hadist yang mengandung perkataan 'fie Sabilillah' didalam bab-bab Jihad.Misalnya Hadist:

"Sesiapa yang berpuasa sehari fie sabilillah niscaya Allah menjauhkan mukanya dari api neraka 70 tahun perjalanan."

(Fathul Bari no. 2840, Kitabul Jihad, Bab Fadlus Soum fie Sabilillah 6/47)

Untuk lebih menyakinkan kita rujuk kitab kitab: Shahih Bukhari, Sunan Nasai, Sunan Tirmidzi, At-Targhib wat Tarhib, dll.

Ibnu Hajar berkata:"Dan yang tidak memerlukan pemikiran yang panjang untuk memahami lafaz 'fie sabilillah adalah Jihad."

Makna Perkataan Al-Jihad di dalam Al-Quran:

a. Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Makiyyah menunjukan makna Jihad menurut bahasa yang 'am, yaitu antara lain:

"Sesiapa yang berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri."

(QS Al-Ankabut 6)

"Jika kedua orang tuanya berjihad terhadapmu agar kamu mempersekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada pengetahuan padamu maka janganlah kamu mentaati keduanya."

(QS Al-Ankabut 8)

"Dan orang-orang yang berjihad dijalan Kami, sungguh Kami benar-benar akan menunjukkan mereka pada jalan jalan Kami."

(QS Al-Ankabut 69)

"Dan jika keduanya berjihad terhadapmu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menta'ati keduanya...."

(QS Luqman 15)

b.Perkataan Al-Jihad pada ayat-ayat Madaniyyah berjumlah 26 perkataan dan kebanyakan menunjukan dengan jelas akan makna Qital (Perang), diantaranya:

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. "

Surat At-taubah ayat 41 (QS 9:41)

"Dan apabila diturunkan surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihad beserta Rasul-Nya, Niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berjihad) dan mereka berkata: " Biarlah kamu berada bersama orang- orang yang duduk."

Surat At-Taubah ayat 86

Dan Banyak lagi ayat-ayatnya:

QS Al-Baqarah 218 , QS Al-Imran 142, QS An-Nisa 95, QS Al-Anfal 72, 74, 75, QS At-Taubah 16, 19, 20, 24, 44, 73, 81, 88, QS Al-Hujarat 15, QS Al-Maidah 35, 54 , QS Al-Ankabut 6 , QS As-Saf 11, QS At-Tahrim 9, QS Al-Mumtahanah 1 , QS Muhammad 31

Adapun Hadith-hadith yang menunjukan makna Jihad menurut syara' antara lain:

Dari Amru bin Abasyah berkata: Seorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Beliau menjawab:"hatimu menyerah dan orang-orang muslim selamat dari gangguan tangan dan lisanmu. Ia berkata:"Islam macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Al-Iman". Ia bertanya:"Apakah Iman itu?" Beliau menjawab: " Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati." Ia bertanya lagi: "Iman macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Hijrah". Ia bertanya: "Apakah Hijrah itu?" Beliau menjawab: "Engkau tinggalkan kejahatan." Ia bertanya lagi: "Hijrah macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Al-Jihad." Ia bertanya lagi: "Apakah Jihad itu? Beliau menjawab: " Engkau perangi orang-orang kafir jika engkau jumpai dimedan perang." Ia bertanya lagi: "Jihad macam mana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Siapa yang dilukai anggotanya dan dialirkan darahnya."

(HR Ahmad)

Demikian pula sahabat Nabi saw jika mendengar perkataan Jihad terlintas dalam benak mereka maknanya adalah perang sebagaimana dapat kita ketahuihal ini antara lain dalam hadist dibawah ini:

Dari Abu Qutadah ra, dari Rasulullah saw, bahwasannya baginda telah berdiri dikalangan mereka kemudian menyebutkan, "Sesungguhnya Jihad fie Sabilillah dan Iman kepada Allah itu adalah amal-amal yang paling utama." Maka berdirilah seseorang kemudian ia berkata: "Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua dosa dosa saya terhapus?" kemudian Rasulullah menjawab: "Ya, jika engkau terbunuh fie sabilillah sedangkan engkau sabar, semata-mata mencari pahala, maju terus, tidak mundur." Kemudian Rasulullah saw berkata: "Bagaimana tadi apa yang engkau katakan?" Ia bertanya: "Bagaimana pendapat tuan sekiranya saya terbunuh fie sabilillah, apakah semua kesalahan saya juga akan terhapus? Maka Rasulullah menjawab: "Ya, sedangkan kamu bersabar, semata- mata mencari pahala, maju terus tidak mundur, kecuali hutang (tidak akan terhapus), karena sesungguhnya Jibril as mengatakan demikian kepadaku."

(HR Muslim no.1885).

Jihad adalah salah satu jenis ibadah tertentu yang telah disyariatkan Allah kepada umat Islam sebagaimana ibadah Sholat, Zakat, Puasa dan Ibadah-Ibadah lainya. Oleh itu ta'rif jihad menurut bahasa semata-mata tidak tepat jika kita gunakan sebagai ta'rif jihad menurut syara', seperti Ibadah-ibadah lainnya, misalnya sholat.

Menurut bahasa, Sholat artinya Do'a, tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan sholat itu adalah salah satu dari jenis Ibadah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa setiap do'a itu adalah sholat.

Demikian pula halnya Siyam (Puasa) menurut bahasa artinya menahan atau mengekang dari makan dan minum. Apakah setiap perbuatan menahan dari makan dan minum pada waktu tertentu dapat dikatakan Siyam (Puasa) secara Syar'i? Tentu tidak. Maka demikian pula halnya Jihad yang artinya menurut bahasa adalah mengerahkan segenap kekuatan dalam perkara apa saja dapat dikatakan Jihad. Karena Jihad sudah merupakan satu jenis Ibadah yang tertentu dalam syariat Islam yaitu pengerahan segenap kekuatan dan kemampuan dalam berperang fie sabilillah dengan jiwa, harta, lisan dan sebagainya.

II. MASYRU'IYYAT AL-JIHAD

"Hai Nabi, berjihadlah (perangilah) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali seburuk-buruknya."

(QS At-Taubah 72)

Dalam menafisirkan ayat ini Ibnu Mas'ud berkata: "Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang Munafik dengan tangan, dan jika tidak mampu maka harus mengingkari pada wajah. Dan Ibnu Abbas mengatakan: "Allah swt memerintahkna Nabi saw untuk memerangi orang-orang kafir dengan Pedang dan memerangi orang-orang Munafik dengan lisan dan tidak bersikap lembut terhadap mereka."

(Tafsir Ibnu Katsir 2/408).

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

(QS Al-Baqarah 216).

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agam Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka kalam keadaan tunduk".

(QS At-Taubah 29)

Wednesday, 6 April 2011

Bahaya Aids Al Haraki Dalam Gerakan Islam

SUATU PERINGATAN DARI USTAZ FATHI YAKAN
( Virus Merbahaya Yang Menyerang Harakah Dakwah Masa Kini )


Muqaddimah

Seorang Mujahid Dakwah, Ustaz Fathi Yakan, yang pernah berkunjung ke Negara kita, dalam rangka menghadiri Muktamar Agung PAS tahun 1997, telah memperingatkan kita semua tentang bahaya AIDS Haraki, iaitu istilah yang menggambarkan fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebahagian harakah Islamiah di seluruh dunia.

Ini adalah peringatan penting beliau kepada para aktivis dakwah, sejak enam belas tahun yang lalu di dalam buku beliau : Ihzaruu AIDS Al-Haraki (Berjaga-jagalah, AIDS Haraki). Wa Zakkir !! Fa inna az-Zikra tanfa`ul mu’minin.

Penyakit AIDS adalah merujuk keadaan seseorang yang mengalami kehilangan daya tahan penyakit di dalam tubuh, sehingga menjadi mudah dijangkiti penyakit dengan keadaan yang parah. Sehingga kini, penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini, masih belum ditemui ubat yang dapat menyembuhkan penyakit merbahaya ini. Para penghidap HIV/AIDS ini akan berhadapan dengan risiko kematian.

Dalam buku “Ihdzaruu Al-Aids Al-Harakiy (1989)”, Al-Ustaz Fathi Yakan secara khusus mengingatkan kes kehancuran harakah dan tanzim dakwah di Lubnan. Hal yang sama juga berlaku di beberapa Negara Muslim yang terdapat harakah Islamiah di situ. Beliau berpendapat, kes-kes kehancuran tanzim dakwah bermula dari kelemahan daya tahan dalaman jama`ah, yang seringkali terjadi di saat mereka berada di atas paksi Mihwar Siyasi (Orbit Politik).

Hal ini sering terjadi ketika harakah Islamiah memasuki wilayah amal siyasi (kerja politik) untuk menyempurnakan wilayah `amal dakwah dan meningkatkan sasaran dakwah yang lainnya.

Mengapa terjadi seperti ini? Apakah penglibatan harakah Islamiah dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan dan kesilapan? Tentu saja tidak !! Bahkan ini adalah suatu kewajipan kita semua.

Konsep Syumuliatul Islam yang diperkenalkan Imam As-Syahid Hasan al-Banna di dalam usul pertama dari Usul `Isyrin, telah memberikan gambaran pentingnya kita bergerak di paksi politik demi tertegaknya Ad-Din wa Ad-Daulah. Sesungguhnya saat ini, Syumuliayatud Dakwah menuntut kita memasuki dan menguasai wilayah politik.

Mengenal Virus Merbahaya

Persoalan yang timbul ialah bagaimana virus ini boleh berjangkit dan menjadi penyebab kehancuran kepada harakah? Dalam analisa dan tajribah Ustaz Fathi Yakan, terdapat 7 faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi :

1. Hilangnya Manna`ah I`tiqodiyah (imuniti keyakinan) dan tidak terbinanya bangunan dakwah di atas dasar fikrah dan mabda’ yang benar dan jitu. Akibat yang timbul dari faktor ini, tanzim dakwah tidak tertegak di atas fikrah yang benar dan utuh.

Adakalanya sebuah tanzim hanya wujud sebagai Tanzim Ziyami, iaitu tanzim yang berdiri atas landasan wala’ kepada seorang pemimpin yang diagungkan. Ada juga yang bergerak sebagai Tanzim Syakhshi, iaitu tanzim yang tertegak atas bayangan keperibadian (figure) seorang pemimpin. Terdapat juga yang berbentuk Tanzim Mashlahi Naf`i yang berorientasi mewujudkan tujuan perlaksanaan pengisian semata-mata.

Kerana itu, binaan tanzim menjadi begitu rapuh, tidak mampu menghadapi kesulitan dan cabaran. Akhirnya bergoncanglah binaan dan bercerai-berai shofnya sehingga terjadilah berbagai peristiwa dan tragedi.

2. Perkaderan dan pembinaan anggota berdasarkan kuantiti, dengan mengutamakan bilangan dan jumlah keahlian menjadi keutamaan qiyadah. Seringkali dianggap, bahawa jumlah yang banyak itu akan menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini mungkin ada kebenarannya ketika sebuah harakah dakwah tampil secara rasmi sebagai parti politik dan terlibat dalam pilihanraya.

Akan tetapi hal ini perlu diawasi kerana, orientasi ini akan memudahkan pihak-pihak tertentu cuba mewujudkan qaidah sya’biyah atau dasar dokongan sosial untuk kepentingan mealisasikan tujuan-tujuannya.

Dalam situasi tertentu akan muncul keperibadian atau tokoh-tokoh tertentu dalam harakah yang memperjuangkan kepentingan peribadi dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibinanya. Pada saat ini, qa`idah sya’biyah ini akan bertindak sebagai musuh dalaman kepada harakah Islamiah.

3. Isti’jal (tergesa-gesa) untuk meraih kemengan, meskipun tidak seimbang dengan persediaan yang mencukupi, walaupun ditahap minimum. Kemenangan politik bererti memperolehi kekuasaan. Setiap aktivis politik akan dikuasai semangat mencari dan mengejar kekuasaan sehingga tidak ada penghujungnya.

Menurut Ustaz Fathi Yakan, kekuasaan yang diperolehi di manapun akan menuntut pembahagian ghanimah (harta rampasan perang) kepada penjaga sesuai dengan perbandingan tugasan yang ditanggung seseorang. Ghanimah yang telah diperoleh itu kadangkala melahirkan cubaan, fitnah dan bencana kerosakan dalam harakah.

Permasalahan dasarnya adalah penipuan dalam pembahagian, antara perseorangan, pemimpin serta penguasa yang bercita-cita mendapatkan bahagian kekuasaan yang banyak. Akhirnya prinsip perjuangan tergadai dan agenda maddiyah dengan mengejar kepentingan hawa nafsu akan menjadi tuntutan perjuangan mereka.

Ketika ini hilanglah roh aqidah dalam perjuangan, tumpuan hanya diberikan kepada percaturan strategi menghadapi musuh dalam pilihanraya dengan meninggalkan agenda pembinaan ruhiyah di kalangan jundiyah dan qiyadah. Akhirnya “yang dikejar tak dapat, yang dikendong keciciran ”.

4. Binaan tanzim dipengaruhi unsur luaran. Samada dipengaruhi oleh latarbelakang kekuatan yang berada di sekelilingnya dari aspek politik, ekonomi dan lain-lain aspek. Akibatnya, tanzim akan kehilangan potensi keaslian perjuangan, kehilangan orientasi dan arah tujuan politik. Kerana hilangnya asholah dakwah (keaslian), tanzim menjadi alat kepentingan pihak lain, dan segala keputusan dan tindakan dipengaruhi kelompok tertentu.

5. Munculnya berbagai aliran dan kelompok dalam harakah. Hal ini sering terjadi kepada harakah yang telah mengalami perpecahan lantaran hilangnya wahdatul fikr dan wahdatul `amal. Kesan dari permasalahan ini akan timbulnya ta`addudul wala’, justeru akan timbul pertikaian, perebutan pengaruh dan kekuasaan untuk meraih hasrat dan cita-cita peribadi atau kelompok tertentu.

6. Campur tangan pihak luar dengan pengaruh dominan politik, ideologi, perisikan, inteligent dengan berbagai cara penyamaran untuk menyerang musuh dalam harakah dengan tujuan menghancurkan kekuatan dan kesatuan di dalam tanzim. Ruang yang terbuka untuk campur tangan atau penyusupan amat luas, terutama melalui ruang politik, iaitu dengan menawarkan pelbagai maslahah siasah.

Kekuatan luaran dan campur tangan ke dalam tanzim harakah berlaku ketika jamaah mengalami kelemahan, miskinnya roh `aqidah di kalangan jundiyah dan qiyadah, kuatnya kecenderungan mengejar maddiyyah dan jawatan.

7. Lemah atau hilangnya kesedaran politik (wa’yu siyasi) dalam harakah. Sesebuah harakah yang tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan dapat mengimbangai peredaran zaman, gagal mengambil istifadah dan pengajaran dari pengalaman lepas, tidak mengkaji peranan harakah di masa depan dan tidak mampu membuat suatu keputusan politik setempat berdasarkan situasi dan kondisi politik internasional.

Apabila harakah mengalami kelemahan seperti ini, akan berlaku sikap yang kontradiktif dan mudah terbawa arus. Keadaan ini memudah unsur-unsur negatif dari luar mengawal keputusan politik dalam harakah dan mengenepikan peranan majlis syura dalam jamaah.

Semua faktor kondisi yang dinyatakan oleh Ustaz Fathi Yakan adalah berkesimpulan dari masalah mendasar harakah Islamiah masa kini, iaitu “politik mendominasi tarbiah”. Keadaan ini menyebabkan suasana atau munakh harakah dikuasai oleh politik, bahkan sangat mempengaruhi pendirian dan sikap para anggota dan pimpinan harakah.

Kewajipan Memelihara Asholatud Dakwah (Keaslian Dakwah).

Permasalahan dan penyakit yang berlaku di dalam harakah dakwah, hanya dapat dikawal dan diubati dengan memelihara keaslian dakwah yang kita warisi dari Baginda Rasulullah SAW.

Syeikh Mustafa Masyhur Rahimahullah, dalam sebuah tulisannya, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah, menekankan betapa pentingnya Muhafazhah `Ala al-Asholah (memelihara keaslian dakwah), agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran.

Sekecil-kecil penyelewengan dari asholah dakwah, pasti akan melahirkan kegelinciran yang semakin hari semakin besar, serta menyeret harakah jauh dari jalan yang benar dan gagal mencapai sasaran harakah. Imam Asy-Syahid Hasan al-Banna selalu menekankan agar jamaah beriltizam dengan Islam, Al-Quran dan As-Sunnah serta melangkah ke medan dakwah berpandukan Sirah Rasulullah SAW ketika beliau menegakkan Daulah Islamiah pertama. (Mustafa Masyhur, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah).

Memelihara Asholah Dakwah bererti meletakkan kepentingan kepada tarbiyah. Kerana itu, tarbiyah dalam jemaah tidak boleh dikesampingkan atau diabaikan demi memenuhi tuntutan kegiatan politik, publisiti bahkan jihad sekalipun. Perencanaan takhtit dan tanzim semata-mata tidak mencukupi tanpa tarbiyah untuk membina izzah harakah di mata musuh Islam.

Usrah merupakan tulang belakang tarbiyah dalam jamaah, yang berperanan sebagai wasilah yang mendidik ahli dan membentuk rijal. Semua anggota di manapun peringkat jamaah, samada ahli hinggalah pimpinan tertinggi wajib mengikuti peringkat-peringkat tarbiyah sehingga sampai ajalnya.

Kesimpulan

Ternyata, kewajipan itu lebih banyak dari batas waktu yang kita miliki. Kerana itu, dakwah kita tidak dibina atas dasar rukhshah (keringanan), tetapi dibangun atas dasar `azhimah dan tekad yang teguh. Jika hal ini diperhatikan dengan sewajarnya, dari peringkat ahli sehinggalah pimpinan jamaah, segala permasalahan yang sering melanda harakah dan dakwah, nescaya virus bahaya yang menular dalam tanzim binaan jamaah dapat diatasi.

Semoga kita mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan sejak enam belas tahun silam oleh seorang da`ie yang menjadi qudwah kepada kita, demi kebaikan dan kejayaan harakah dakwah di Negara kita.
Kepada para Pejuang yang merindukan kejayaan.....

Kepada Rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan Kepada Pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah catatan membanggakan di lembar sejarah manusia Wahai kalian yang rindu kemenangan…..

Wahai kalian yang turun ke medan Demi mempersembahkan jiwa dan raga Untuk Islam tercinta…..

Sunday, 3 April 2011

FIQH DAKWAH : SATU PEMAHAMAN 2


4. RUKUN DAKWAH
                Sejajar dengan konsep dakwah iaitu seruan kepada agama Islam selaku penamat yang dibawa oleh junjungan besar Muhammad s.a.w, yang merupakan wahyu daripada Allah s.w.t. Ia selari dengan apa yang dijelaskan oleh Al Quran dan Sunnah Nabawiyyah dengan skop perbincangan yang luas yang merangkumi peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada Rasulullah dan sirah perjalanannya yang panjang, maka rukun dakwah yang terbina adalah diasaskan di atas dasar agama Islam itu sendiri.
                Rukun dan asas tersebut (secara teori dan praktikal) adalah :
‌أ.                     Aqidah
‌ب.                  Ibadah
‌ج.                   Akhlak

Ketiga-tiga asas di atas terikat dengan ikatan yang kukuh di antara satu sama lain dimulai dengan asas aqidah yang sahih  mencernakan ibadah yang sejahtera. Binaan ibadah yang sejahtera melahirkan peribadi yang luhur dalam konteks individu dan masyarakat. Amal soleh tercetus apabila ibadah yang dilakukan berdasarkan akidah yang murni.

1)                   Aqidah
Aqidah ialah perkara yang wajib dipercayai oleh setiap individu muslim dengan keyakinan yang thabat untuk didirikan di atasnya konsep ibadah, akhlak bagi setiap individu dan masyarakat. Ruang lingkup perbicaraan aqidah adalah :

1.       Beriman kepada Allah.
2.       Beriman kepada para Malaikat.
3.       Beriman kepada para Rasul.
4.       Beriman kepada Kitab.
5.       Beriman kepada Hari Qiamat.
6.       Beriman kepada Qada’ dan Qadar.

2)                   Ibadah   
Iaitu penerjemahan  daripada aqidah yang murni, merealisasikan  konsep aqidah dalam bentuk yang praktikal. Ibadah tersebut ialah yang di fardukan oleh Allah Taala kepada setiap individu muslim. Dasar-dasar ibadah adalah:
1.       Dua kalimah syahadah (Syahadatain)
2.       Mendirikan solat
3.       Mengeluarkan zakat
4.       Puasa di bulan Ramadan
5.       Mununaian haji bagi sesiapa yang berupaya
6.       Ibadah dalam pengertian yang luas

3)                   Akhlak
Iaitu perilaku yang murni dihiasi dengan norma-norma akhlak muslim yang mesti diimplimentasikan dalam kehidupan masyarakat individu muslim adalah seperti berikut:
1.       Cabang iman
2.       Amar ma’ruf dan Nahi mungkar
3.       Al-Adlu Wal-Ihsan
4.       Jihad fisabillah
Di dalam hal di atas (konsep akhlak) perkara-perkara di atas kadang-kadang menjadi fardhu di dalam keadaan tertentu, kadang-kadang pula menjadi sunat di dalam keadaan yang tertentu. Dalam keadaan yang lain pula ia terkadang menjadi amalan yang biasa dan pilihan. Namun begitu kesemuanya merupakan akhlak-akhlak Islam yang luhur.


5. MATLAMAT (TUJUAN ) DAKWAH
               Hala tuju dakwah yang hendak dicapai secara umumnya adalah senada dan seirama dengan tujuan agama Islam diturunkan kepada Bani Basyar iaitu untuk mencapai kemaslahatan manusia dan menyingkirkan sebarang agen-agen perosak dan pembinasa yang boleh  mencacatkan keharmonian kehidupan manusia samada di dunia dan akhirat. Imam Al Izz bin Abd  Dissalam mengatakan :
“Sesunguhnya syariat itu adalah kemaslahatan baik mencegah dari kerosakan maupun mencapai kemaslahatan“

        Tuju sasar dakwah secara umum terbahagi kepada dua: Fardi dan Jamai’e
Di antara matlamat dan rangka tuju dakwah yang hendak dicapai adalah seperti berikut :

1)       Menunjuk manusia kepada pengabdian yang total kepada Allah s.w.t bertepatan dengan apa yang disyariatkan kepada mereka. Ini merupakan tugas asas dan asal kebangkitan para rasul di muka bumi ini. Namun begitu tugas tersebut berpindah kepada para duat selaku galang ganti kepada tugas yang ditinggalkan oleh para rasul seraya para du’at merupakan pewaris para nabi dan rasul.
Justeru itu, para du’at berperanan sebagai penerang, penafsir dan petunjuk jalan kepada manusia kepada persoalan dasar dan asas iaitu konsep tauhid dan menjelaskan konsep Islam sebagai satu cara hidup.
2)       Menunjuk manusia agar berta’aruf (kenal mengenal) di antara satu sama lain. Ia merupakan satu perintah dari Allah Ta’ala untuk dilaksanakan oleh manusia seluruhnya.
Para du’at diwajibkan menjelaskan perkara tersebut kepada manusia tidak boleh hidup berseorangan. Interaksi dan komukasi di antara manusia merupakan naluri yang ada di dalam jiwa manusia.
3)       Mengubah suasana yang buruk dan iklim yang bejad di dalam realiti kehidupan manusia kepada iklim Islamiah bagi menjamin kemaslahatan kehidupan yang sejahtera di dunia dan akhirat.
                Para du’at diperlukan untuk mencernakan misi tersebut. Menjelaskan konsep Jahiliyyah kepada manusia agar mereka berupaya menanggapi perkara tersebut sehingga mereka dapat menyusun kehidupan dengan teratur.         
4)       Mendidik individu muslim dengan tarbiyyah Islamiah Syumuliah yang merangkumi tarbiah rohiah, jasadiah, fikriah dan ‘aqliah.
5)       Membentuk Bait Muslimah dengan mendidik individu-individu tersebut bertepatan dengan Manhaj Islam dan system kekeluargaan yang berteraskan kepada roh Islami. Justeru itu institusi ini dapat melahirkan jil muslim yang bersifat taqwa, menjadi tunas baru demi terbentuknya masyarakat Islam yang diimpikan.
6)       Membentuk Mujtamak Muslim yang merealisasikan norma-norma Islam dari segi dasar dan akhlak. Dengan erti kata lain, masyarakat yang mengimplimentasikan system dan peraturan mengikut neraca timbangan Islam yang mampu mengaplikasikan konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar, al ‘adl wal ihsan di dalam kehidupan masyarakat.
7)       Usaha untuk mewujudkan Negara Islam yang melaksanakan syariat Allah  terhadap manusia. Negara Islam yang mengamalkan keadilan individu, menjaga maslahat umum, mengekang fasad dan melaksanakan amanah, menyebar agama Islam kepada seluruh manusia dan menyebarluaskan  pendidikan Islam.
8)       Usaha untuk membebaskan negara Islam keseluruhannya daripada cengkaman mana-mana musuh dalam realiti yang ada atau keadaan yang melingkunginya. Membebaskannya daripada mengikut arus atau perancangan oleh pemuka-pemuka arkitek barat.
                 Negara yang awal yang mesti dibebaskan ialah Palestin di mana ramai di kalangan manusia tertipu dalam tempoh yang panjang.
9)       Usaha untuk mewujudkan kesatuan yang jitu di antara negara-negara Islam dalam konteks kesatuan fikrah dan ilmu, kesatuan matlamat dan hadaf, kesatuan ekonomi dan siasah di antara negara Islam.
                  Satu impian untuk meletakkan negara-negara Islam di bawah “Payungan Khilafah Islamiah” iaitu daulah Islamiah yang menjalankan syariat dan perundangan Islam.
10)   Usaha untuk melebarluaskan Dakwah Islamiah seluruh alam maya, timur dan barat, di negara Islam dan bukan Islam sejajar dengan “Agama Basyariah”.

6. USLUB DAKWAH DAN WASILAH
Perbezaan di antara USLUB dan WASILAH :
Uslub (Jalan Dakwah) ialah amal yang dilakukan oleh da’ei untuk menjayakan misi operasi dakwah.             
Wasilah (Media Dakwah) ialah amal yang dilakukan oleh para da’ei untuk menjayakan uslub dakwah.

USLUB merupakan strategi/cara untuk sampai kepada matlamat dakwah. WASILAH pula merupakan perlaksanaan strategi (amalan perlaksanaan itu sendiri). Garis panduan bagi kedua-duanya adalah Al Quran, Sunnah Nabawiyyah dan Sirah Nabawiyyah. Method/uslub dakwah adalah tidak jumud dan kaku tetapi ia bersifat pragmatif yang berubah mengikut keadaan tuju sasar iaitu mad’u berdasarkan : Watak, Suasana, Pemikiran dan Kefahaman.
                Method dakwah akan berubah berdasarkan watak yang didokongi oleh mad’u, biah yang berbeza-beza, kadar pemikiran yang dimiliki seperti golongan intelektual, golongan pelajar, orang kampung dan lain-lain serta kapasiti kefahaman yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tersebut.
Ini merupakan satu realiti yang mesti ditanggapi oleh para da’ei. Lantaran itu para da’ei mesti bersikap rasional dan matang untuk menentukan method mana yang perlu diambil dalam rangka menjayakan misi suci ini.
                                  
A. Uslub Dakwah.
Di antara uslub dakwah :
1.       Menerangkan dan menafsirkan usul dakwah.
Usul dakwah ialah usul agama itu sendiri iaitu satu ilmu yang menentukan padanya bagi menetapkan hakikat agama dengan mendatangkan dalil dan hujah ke atasnya dan menolak segala syubhat daripadanya. Ia merangkumi :    
i.    Perkara-perkara aqidah : zat Allah s.w.t, sifat dan nama serta perbuatan. Percaya kepada malaikat, kitab, rasul-rasul, hari akhirat serta qada’ dan qadar.
ii.   Perkara-perkara ibadah : persoalan tauhid, solat, puasa, zakat dan haji.
iii. Perkara-perkara muamalat : akad, nikah, talak, jual beli, gadaian, syafaah, salam, sewa menyewa, wakalah dan kifalah.
iv. Perkara-perkara hudud dan kisas, jihad, harabah.
v.   Persoalan fadhilat-fadhilat pada perkara yang diwajibkan daripadanya dan perkara-perkara sunat seperti sedekah, amanah, silaturrahim, kasih sayang, sabar dan lain-lain lagi.

Uslub Al Quran menjelaskan dan menerangkan perkara-perkara tersebut, di mana :
                i.     Surah-surah yang diturunkan di Mekah menjelaskan perkara akidah
               ii.     Surah-surah yang diturunkan di Madinah menjelaskan perkara syariat dan manhaj du’at tidak dapat tidak perlu merencanakan uslub tersebut dengan mengenal pasti mad’u untuk mengeluarkan mereka daripada kesesatan kepada jalan petunjuk.
2.       Membandingkan di antara dakwah yang benar dan batil.
Satu uslub yang baik untuk mengiqnakkan mad’u menerima dakwah Islamiah. Bentuk-bentuk muqaranah :
                                 i.             Berhadapan dengan ahli kitab Yahudi dan Nasrani.
                                 ii.            Berhadapan dengan golongan yang sesat dan mengikut hawa    nafsu.
Justeru itu dalam berhadapan dengan mereka, para da’ei perlu meraikan perkara-perkara tersebut :
                                                 i.              Dilaksanakan / berhadapan dengan topik-topik yang ditentukan dengan adil. Tujuan muqaranah adalah untuk mencari kebenaran.
                                                ii.              Jidal dilaksanakan dengan baik, bukan semata-mata untuk mengalahkan dan membantah hujah. Mengiqnakkan perbalahan dengan hujah dan dalil.
                                              iii.              Melazimkan dengan akhlak-akhlak Islam.
                                              iv.              Merupakan orang yang ahli iaitu orang-orang yang betul-betul fakeh dan alim dalam perbahasan.

Muqaranah yang digambarkan di dalam Al Quran, Sunnah dan Du’at sepanjang zaman dan tempat adalah melingkungi perkara tersebut :
-          Supaya manusia menggunakan akal mereka untuk merenung dan menghayati sesuatu perkara / fenomena yang berlaku lantas bersedia menerima kebenaran dan menolak kebathilan.
-          Memberi peringatan kepada manusia dengan apa yang telah berlaku kepada umat Islam yang terdahulu dengan menggunakan pertimbangan akal sehingga mereka menerima cahaya keimanan bilamana mereka menerima kebenaran tersebut sebaliknya tetap di dalam kesesatan dan kekufuran bila masih berpegang teguh dengan kejahilan.
3.       Menolak syubhat dan tipu daya.
Telah berlaku sejak dibangkitkan para rasul dan nabi-nabi sehingga kini. Di antara bentuk-bentuk syubhat yang dilakukan adalah :
                            a.       Terhadap Al Quran itu sendiri : bukan daripada Allah.                          
                            b.      Terhadap Islam dari sudut manhaj dan nizam :
- bersifat tempatan dan daerah.
- pemisahan di antara agama dan daulah.
- tersebar dengan pedang, fundamentalis.
- hudud dan kisas – keji.
- poligami - pemuas nafsu.
c.      Terhadap Rasulullah :
-   mereka Al Quran.
-   wahyu bukan daripada Allah.
-   kahwin ramai.
                            d.       Terhadap peribadi sahabat dan salafussalih.
4.       Mengikat persaudaraan dan tarbiyyah dan mempersiap siagakan (mad’u).
Mengikat mad’u dengan hubungan baik, ditaut dengan konsep dakwah di antara da’ei dan mad’u dengan ukhuwahfillah. Seterusnya diikat dengan tarbiah yang selari dengan manhaj Islam dari aspek spritual, mental dan syakhsiah. Justufikasinya mad’u dapat melaksanakan setiap perintah yang dituntut oleh Islam di dalam semua lapangan dan bidang. Justeru itu mereka dapat disediakan untuk melaksanakan tugas dakwah ini. Ini merupakan Uslub Qurani iaitu Allah Ta’ala telah mendidik kesemua para rasul dengan proses tadi sebelum mereka ditaklifkan dengan tugas membawa risalah tauhid. Firman Allah s.w.t : (Surah Al Qasas : 14) dan (Surah Thaha : 22)
5.       Pengumpulan, pembikinan dan pelaksanaan tugas.
Uslub ini merupakan pelengkap kepada proses sebelumnya iaitu dalam 3 peringkat :
-          Pengumpulan  - proses ta’aruf, taqarrub dan kasih sayang kerana Allah Ta’ala dari segi ruhiah, jasadiah dan aqliah.
-          Pembentukan  - mengikat kecenderungan untuk diketengahkan bila diperlukan.
-          Pelaksanaan   - meletakkannya di tempat yang telah ditentukan sebelum ini berdasarkan pengkhususannya sebelumnya.
6.       Berita gembira dan balasan kebaikan.
Merupakan Uslub Qurani untuk mengubati jiwa manusia agar cintakan keamanan dan kesejahteraan, justeru menjauhkan diri mereka daripada kemerbahayaan diri dengan uslub ini (takhwif dan tahdid). Lantaran itu ia mampu menarik manusia untuk menerima kebenaran dan takut akan balasan buruk di samping takut akan hilangnya keamanan dan kesejahteraan daripada dirinya.
7.     Ancaman dan ingatan

B. Wasilah Dakwah
Wasilah ialah satu amalan (media) yang merealisasikan matlamat dakwah seperti mana yang digariskan sebelum ini, justeru itu secara umumnya wasilah dakwah Islamiah dan penyampaian media kepada manusia boleh diskopkan kepada tiga bahagian/aspek :
Ø  Media perkataan.
        Merupakan jihad dengan kalimah dan media penyampaian adalah melalui khutbah, pengajian, risalah, makalah, majalah, kitab dan seumpamanya.
Ø  Media amal.
        Penyampaian melalui amal perbuatan merangkumi aspek tersebut :
‌أ.                     Amar ma’aruf nahi mungkar.
‌ب.                  Mendirikan institusi perkhidmatan.
Ø  Media qudwah.
        Ia merupakan wasilah secara praktikal yang meletakkan juru dakwah sebagai cermin yang mampu diteladani secara praktis. Penonjolan peribadi syakhsiah muslim sejati yang ditunjukkan oleh para da’ei mampu menarik mad’u untuk menerima dakwah dengan lebih efektif.

8.  KEWAJIPAN PARA DU’AT

Di antara beberapa tugas yang mesti dilakukan oleh juru dakwah ialah :

a)     Menyampaikan risalah dakwah kepada manusia.
Sesungguhnya du’at ilallah merupakan pewaris para nabi pembawa ilmu, pemegang amanah agama. Oleh kerana itu mereka merupakan golongan pilihan untuk menyampaikan risalah dakwah iaitu untuk membawa manusia kepada pengabdian yang total kepada Allah Ta’ala. Para du’at ilallah merupakan kurnia nikmat kepada manusia kerana akan berterusan sepanjang zaman satu kelompok manusia yang mewakafkan diri untuk dakwah. Mereka tidak sekali-kali menyembunyikan kebenaran. Firman Allah Ta’ala : (Surah Al Baqarah : 146)

b)    Menjelaskan kepada manusia hanya agama Islam sahaja merupakan agama ikutan. Warid daripada nas Islamiah daripada Al Quran dan Sunnah Nabawiyyah, tuntutan agar manusia meletakkan agama Islam sebagai agama penamat dan lengkap. Firman Allah Ta’la : (Surah As Saba’ : 28) dan (Surah Al A’raf : 158)

c)     Mengajar manusia perkara-perkara yang berkaitan dengan agama dan dunia. Perkara-perkara agama yang wajib diajar :1.Konsep Tauhid : Tiada pengabdian kecuali kepada Allah.2.Cabang-cabang iman. 3.Rukun Islam, makna ihsan, penjelasan mengenai halal dan haram dan sebagainya.

d)    Menggalakkan manusia agar melakukan amal kebajikan. Supaya manusia dapat hidup dengan harmoni jauh daripada kacau bilau, huru-hara dan ketakutan. Lantaran itu Allah s.w.t menyuruh orang-orang mukmin supaya melakukan kebajikan. Firman Allah Ta’ala : (Surah Al Hajj : 77)


e)    Menanamkan di jiwa manusia konsep / hakikat penggabungan diri mereka kepada Islam. Para du’at dituntut agar menanamkan sifat penggabungan yang global terhadap Islam di kalangan umat Islam. Hakikat Islam yang bersifat universal harus dijelaskan untuk mengikis sebarang pesimis yang negatif terhadap Islam.

9.  SIFAT PARA DA’EI
Terbahagi kepada dua :
*       Sifat Fitriah : Iaitu sifat yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Di antaranya : iman, ikhlas, taqwa, cerdik, sabar dll.
*       Sifat Muktasabah : Iaitu sifat yang perlu dicari. Di antaranya : keilmuan, kefaqihan, cergas di medan dakwah, keyakinan dan cita-cita tinggi.

10.   PERSIAPAN PARA DA’EI
Persiapan di dalam sesuatu pekerjaan sebelum melaksanakannya adalah perkara yang penting untuk mencapai sesuatu matlamat. Lebih-lebih lagi di dalam konteks dakwah. Persiapan secukupnya kepada para du’at adalah perlu sebagai benteng untuk membawa beben dakwah. Di antara persiapan-persiapan tersebut ialah :

v  Persiapan Diri dan Akhlak.




a.   Persiapan diri :
                                             i.                        Menyucikan diri dengan berpaling daripada dosa dan maksiat.
                                            ii.                        Menyucikan diri dengan melakukan ketaatan.
                                          iii.                        Sifat wara’ dan Sifat redha.

b.   Persiapan akhlak :        
                                             i.                        Menyucikan diri daripada sifat marah. Firman Allah Ta’ala :(Surah Al Anfal : 16)
                                            ii.                        Beriltizam dengan adab-adab Islam.(Surah Al Mukminun : 1-4)
                                          iii.                        Membiasakan diri dengan sifat tasamuh dan sabar.
                                          iv.                        Tetap berakhlak dengan akhlak Islam di mana jua berada.

v  Persediaan Keilmuan Yang Berbentuk Teori dan Praktikal.

a.   Cabang ilmu secara teori :

i.                     Ilmu-ilmu Islam samada usul dan furu’.1. Ilmu Usul adalah Al Quran, Sunnah, Sirah, Lughah dll. 2. Ilmu Furu’ adalah fiqh, akhlak, tarikh Islam, tarikh para sahabat dan tabien dll.
ii.                    Ilmu Dakwah.
iii.                  Ilmu Fiqh dan Usul.

 b.  Cabang ilmu secara praktikal :

                                b.i.       Khusus untuk pendakwah.
i.    Menziarahi tokoh-tokoh pendakwah untuk mengambil faedah dan manfaat daripadanya.
                                                                       ii.     Menziarahi tokoh-tokoh pendakwah untuk mendengar taujihat secara waqie’.
                                                                      iii.     Menghadiri tamrin atau nadwah yang berbentuk dakwah.
                                                                      iv.     Latihan secara amali dalam lapangan dakwah.
                                b.ii.          Khusus untuk mad’u.
                                                i.   Mempelajari ilmu kemasyarakatan / sosiologi secara praktikal menurut teori Islam.
                                                ii.  Mempelajari ilmu psikologi secara praktikal menurut teori Islam.
                                                iii. Mempelajari ilmu kemahiran berbahas.


11.   PENUTUP

Skop perbicaraan dakwah adalah terlalu luas sebagaimana luasnya medan dakwah itu sendiri dalam realiti yang sebenar. Para du’at mesti memahami dengan jelas “Fiqh Dakwah” agar perjalanan yang dilalui menepati matlamat yang digariskan berdasarkan wahyu hidayah Allah s.w.t.
Sekian, wassalam.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...